BAKORNAS -PWI

Waspada - Informatif - Siaga - Empati - Gotong Royong

Depan

Selamat Datang.

SAMBUTAN

PENGGAGAS DAN PENDIRI

BADAN KOORDINASI NASIONAL – PEWARTA WARGA INDEPENDEN

(BAKORNAS-PWI)

 

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

 

Pada kesempatan yang membahagiakan ini, pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih, atas dukungan semua pihak, baik moril maupun materiil sehingga BAKORNAS-PWI dapat lahir dan terbentuk, semoga upaya dan gagasan ini mendapatkan ridho dan balasan Allah SWT.

 

Pewarta Warga Independen yang berbahagia,

Tahun 2008 lalu, kita telah memperingati satu abad Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan nasional yang dicetuskan oleh Budi Utomo, lebih dari seratus tahun yang lalu mengingatkan kita semua agar dalam 100 tahun kedua setelah kebangkitan nasional, negara kita dapat tampil menjadi negara maju. Insya Allah, dengan kewaspadaan untuk mencapai persatuan, informatif dalam gerak dan langkah, siaga dalam kebenaran, empati terhadap anak bangsa, serta gotong royong dalam kebersamaan dan kerja keras kita, semua cita-cita luhur itu akan dapat kita wujudkan.

 

Ketika negeri ini diproklamasikan pada tahun 1945 yang lalu, para Pendiri Republik telah menetapkan tujuan didirikannya negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, yaitu negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

 

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun berlandaskan azas Pancasila dan UUD 1945 serta disemangati oleh Bhinneka Tunggal Ika ~ persatuan dalam kemajemukan. Dalam rentang sejarah, kita patut bersyukur negara kita terus bergerak maju, seraya mengatasi tantangan dan ujian. Sebagai bentuk terima kasih kepada para founding fathers dan para pemimpin terdahulu, marilah kita terus bersatu dan bekerja lebih keras lagi.

 

Seraya terus mendukung proses demokratisasi dan “Character and Nation Building”. Di abad ke-21 ini, misi besar kita adalah melanjutkan pembangunan bangsa, menuju Indonesia yang maju dan sejahtera. Kita bertekad, pada tahun 2045 nanti, tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia, kita dapat membangun kesejahteraan yang kuat dan berkeadilan; demokrasi yang stabil dan berkualitas; serta peradaban yang maju dan unggul.

 

Pewarta Warga Independen yang berbahagia,

Dalam beberapa tahun terakhir ini, ada enam isu penting dan aktual yang mengemuka dan menjadi perhatian masyarakat. Keenam isu itu adalah Pemberantasan Korupsi; Reformasi Birokrasi dan Good Governance; Kekerasan dan konflik sosial; Iklim investasi dan kepastian hukum; Pembangunan Infrastruktur; dan Kebijakan fiskal menghadapi krisis ekonomi global.

 

Isu yang pertama, mengenai pemberantasan korupsi. Korupsi sebagai kejahatan luar biasa telah merusak sendi-sendi penopang pembangunan. Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur yang seharusnya meningkat pesat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas, menjadi terhambat karena praktik yang tidak terpuji ini. Harus kita akui pula, dominasi tindak pidana korupsi cenderung meluas dan cenderung membesar ke daerah-daerah. Modusnya pun beragam, mulai dari yang sederhana berupa suap dan gratifikasi, hingga yang paling kompleks dan mengarah pada tindak pidana pencucian uang. Karena itulah, pemberantasan tindak pidana korupsi harus terus kita awasi. Jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Agung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai institusi penegak hukum, harus betul-betul saling mendukung dan menguatkan.

 

Genderang perang terhadap korupsi tidak boleh kendur. Korupsi harus kita kikis habis. Memberantas korupsi sebagai kejahatan luar biasa, harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa pula. Tidak boleh ada intervensi terhadap instansi penegak hukum dalam pemberantasan korupsi.

 

Isu yang kedua mengenai Reformasi Birokrasi dan Good Governance menjadi sangat penting, mengingat untuk mengelola negara yang besar dan luas ini memerlukan kesungguhan dan keseriusan dari segenap aparatur pemerintahan dari pusat sampai ke daerah. Kita semua berbagi peran dan tanggung jawab.

 

Pemerintahan di daerah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten dan kota, kecamatan, hingga desa dan kelurahan, menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat di seluruh pelosok tanah air. BAKORNAS-PWI bangga atas perjuangan saudara-saudara kita yang tidak kenal lelah dalam mengelola pemerintahan. Mereka yang melayani pagi dan sore, siang dan malam, adalah pahlawan-pahlawan pembangunan yang mengabdi tanpa pamrih.

 

Pelayanan publik harus menjadi salah satu bagian mendasar dalam reformasi birokrasi. Percepatan reformasi birokrasi, tidak dapat ditawar-tawar. Percepatan reformasi birokrasi sangat penting, agar tercipta jajaran aparatur negara yang handal, profesional, dan bersih, berdasarkan kaidah-kaidah good governance and clean government.

 

Pengelolaan pemerintahan juga terus kita iringi dengan perluasan peran publik mulai dari partisipasi pada perencanaan pembangunan, hingga membuka akses publik untuk ikut mengawasi kegiatan pengelolaan pemerintahan. Inilah bagian penting dari pemerintahan yang melibatkan partisipasi publik. Inilah esensi dari sebuah pemerintahan “Open Government”.

 

Sungguh pun reformasi birokrasi terus kita galakkan, tapi masih dijumpai jajaran birokrasi yang belum responsif, cenderung lalai, dan bahkan menghambat jalannya pembangunan. Tabiat dan perilaku seperti ini harus kita ubah dan akhiri.

 

Isu yang ketiga mengenai kerukunan masyarakat dan konflik sosial. Isu ini menjadi persoalan yang serius. Kita harus menghindarkan diri dari kekerasan horisontal, baik yang dipicu oleh sengketa lahan, ekses pilkada, maupun perbedaan pandangan dan keyakinan. Negeri kita justru harus menjadi etalase dari harmoni dan toleransi, bukan konflik dan kekerasan horisontal. Sesungguhnya aksi-aksi kekerasan dan konflik komunal itu merupakan bukti telah terjadinya penurunan nilai dan sikap terhadap Wawasan Kebangsaan, Karakter dan Jatidiri Bangsa, yang seharusnya bisa kita cegah jika semua pihak peduli, bertanggung jawab dan terus menjaga kerukunan dan ketentraman kehidupan masyarakat kita.

 

Isu yang keempat, terkait dengan iklim investasi dan kepastian hukum. Kita menyadari bahwa kita masih mengalami sejumlah hambatan iklim investasi dan kepastian hukum yang dikeluhkan oleh berbagai kalangan. Kedua hal itu berpotensi menciptakan ketidakpastian, ekonomi biaya tinggi (high cost economy), dan hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkualitas.

 

Isu yang kelima mengenai pembangunan infrastruktur, terkait erat dengan isu keempat. Sebab, jika iklim investasi terasa menyejukkan dan kepastian hukum mendapat tempat yang selayaknya, maka terbuka lebar bagi kita untuk lebih banyak membangun Infrastruktur di seluruh tanah air. Potensi dan peluang yang terbentang luas di negara kita, sesungguhnya akan menarik bagi para investor untuk berinvestasi. Inilah peluang emas atau “golden opportunity” yang tidak boleh disia-siakan.

 

Untuk dapat lebih mengoptimalkan „golden opportunity‟, ketersediaan dan kualitas infrastruktur merupakan syarat keharusan (necessary condition). Kita perlu mendukung usaha nasional dalam akselerasi pembangunan infrastruktur untuk menjamin keberlanjutan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, dan penciptaan lapangan usaha baru.

 

Terakhir, isu yang keenam mengenai kesehatan fiskal. Di tengah-tengah ketidakpastian lingkungan ekonomi global, kita semakin tertantang untuk mampu menjaga kesehatan fiskal kita.

 

Pewarta Warga Independen yang berbahagia,

Pada bagian akhir dari sambutan ini, saya ingin menyampaikan bahwa bangsa kita kini tampil menjadi sebuah bangsa yang tidak saja menikmati kebebasan sangat luas, tetapi juga sebuah bangsa dengan sistem kelembagaan negaranya yang lebih demokratis.

 

Di antara yang penting adalah, negara kita telah berubah secara sangat mendasar; dari sebuah pemerintahan otoritarian dan sentralistik ke sebuah pemerintahan yang menghormati kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat serta menganut desentralisasi dan otonomi daerah. Dunia melihat desentralisasi dan otonomi daerah sebagai "big bang", dan bahkan suatu "quite revolution", atau revolusi diam-diam.

 

Kita telah memilih demokrasi sebagai jalan mencapai kesejahteraan. Kita tidak mungkin mereduksi demokrasi yang menjauhkan kita dari persatuan, kesatuan, dan integritas sebagai sebuah bangsa. Kita juga tidak mungkin mereduksi demokrasi yang justru menjauhkan kita dari kepentingan dan kemaslahatan rakyat. Kita meyakini, demokrasi tanpa kebebasan akan berubah menjadi tirani, tetapi demokrasi yang melampaui batas dan tidak disertai dengan tanggung jawab dalam berekspresi, akan berubah menjadi anarki.

 

Tanpa demokrasi yang kuat-yang ditopang oleh tegaknya hukum dan keadilan- maka moralitas dan etika politik akan mengalami kehancuran. Jika hukum tidak tegak dan demokrasi kita rapuh, politik justru akan mengambil jalan menyimpang. Karena itu, dalam berdemokrasi, kita harus menumbuhkan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan saling menghormati.

 

Inilah hakekat prinsip hidup berdampingan dalam perbedaan, dan prinsip kebebasan dalam bingkai toleransi. Itulah esensi dari Seloka Bhinneka Tunggal Ika. Kesabaran, toleransi, dan saling menghargai satu sama lain, adalah potensi yang tidak hanya menjadi penopang dalam kehidupan bangsa yang multikultural, tetapi juga menjadi wujud nyata dari diri kita sebagai bangsa yang memiliki keadaban.

 

Pewarta Warga Independen yang berbahagia,

Sudah saatnya kita bersiap diri untuk sebuah peran baru di abad ke-21 ini. Tantangan yang kita hadapi di abad ini, tidaklah semakin ringan. Jika kita bersama-sama dengan sangat serius menjalankan filosofi dasar BAKORNAS-PWI : Waspada, Informatif, Siaga, Empati dan Gotong Royong yang diejawantahkan dalam peran Pengawasan, Koreksi dan Perbaikan, kita dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Yang mungkin masih kita perlukan adalah rasa percaya diri bahwa kita sendirilah yang semestinya menentukan masa depan kita. Kita sendiri yang akan menentukan masa depan yang hendak kita wujudkan.

 

Mengakhiri sambutan ini, saya mengajak segenap komponen bangsa di seluruh tanah air, marilah kita jadikan kelahiran BAKORNAS-PWI sebagai inspirasi dan penggerak bersama untuk menjadi negara yang unggul dan maju di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia.

 

Akhirnya, semoga dengan lahirnya BAKORNAS-PWI ini, Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT wa Rasullihi SAW, senantiasa meridhoi gerak langkah kita dalam membangun bangsa dan negara yang adil, makmur, aman, tentram, dan sejahtera.

 

Merdeka !

 

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

ACHMAD FADILLAH

Penggagas dan Pendiri BAKORNAS-PWI

 

Jakarta, Minggu, 01 Januari 2012.